A. LEARNING TO KNOW/BELAJAR MENGETAHUI
B. LEARNING TO DO/BELAJAR BERKARYA
-Global Spiritual
Tahapan
awal untuk menciptakan pendidikan yang baik dan berkualitas adalah dengan
mengetahui, memahami dan menerapkan pilar-pilar dalam pendidikan, dan learning
to know atau belajar untuk mengetahui adalah pilar utama dalam sebuah
pendidikan yang mempunyai nilai-nilai dan keyakinan yang menjadikannya sebuah
kunci dalam suatu pendidikan.Proses-proses utama yang menjadi kunci dalam hal
tersebut, meliputi:
1. Meninjau
dan mengklarifikasi nilai-nilai dan keyakinan
2. Menyatakan
misi dan tujuan pendidikan
3. Mengembangkan
pemahaman tentang bagaimana siswa
belajar
4. Responsif
terhadap konteks dalam menentukan apa yang harus dipelajari oleh siswa dalam
jangka waktu mereka mengenyam pendidikan di sekolah formal ataupun non formal
Selama
mengenyam pendidikan di manapun dan kapanpun proses itu terjadi, secara tidak
langsung telah mengajarkan kita untuk
memahami tentang sifat manusia, alam, dan berbagai kecerdasan manusia lainnya.
Sehingga
penyusun dapat menyimpulkan bahwa belajar untuk mengetahui (learning to know) pada
dasarnya adalah suatu pembelajaran tidaklah hanya dilihat dari hasil akhir
sebuah pembelajaran tersebut, melainkan juga berorientasi dalam proses
pembelajaran, belajar untuk mengetahui (learning to know) dalam pembahasan ini
dapat diartikan juga sebagai suatu kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan
memanfaatkan pengetahuan, learning to
know juga diartikan sebagai life long education yang berarti pendidikan
sepanjang hayat, manusia memiliki rasa ingin tahu, dan akan terus belajar
sepanjang hayatnya, sehingga menimbulkan kemauan untuk terus berfikir. Artinya
siswa memiliki pemahaman dan penalaran yang bermakna terhadap produk dan proses
pendidikan (apa, bagaimana, dan mengapa) yang memadai. Dalam pembelajaran
misalnya, siswa diharapkan memahami secara bermakna fakta, konsep, prinsip,
hukum, teori, model, idea , dan hubungan antar idea tersebut; dan alasan yang
mendasarinya, serta menggunakan idea itu untuk menjelaskan dan memprediksi
proses-proses berikutnya.
Sebagai calon pendidik, mahasiswa dituntut untuk dapat
mengetahui, memahami, dan mengaplikasikan Learning to know.Learning to know adalah
belajar mengetahui apa yang perlu diketahui siswa untuk mempersiapkan ia
menghadapai era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga meliputi
bagaimana mendesain pendidikan berdasarkan learning to know. Learning to know
tidak hanya sebatas tahu saja apa yang ingin kita ketahui atau tahu apa yang
tidak kita ketahui dari orang lain melainkan mengetahui ilmunya, memiliki
karakteristik belajar mandiri yang nantinya bisa dan tahu caranya menerapkan
ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat. Dan kita (mahasiswa) nantinya dituntut
untuk dapat mewujudkan hal tersebut.
B. LEARNING TO DO/BELAJAR BERKARYA
Proses pembelajaran dalam konsep learning to do adalah peserta didik harus mau dan mampu (berani) mengaktualisasi keterampilan yang dimilikinya, selain bakat dan minat yang telah dimiliki sejak awal.
Sekolah adalah salah satu fasilitas untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimiliki peserta didik, serta bakat dan minatnya agar “Learning to do” (belajar untuk melakukan sesuatu) dapat terrealisasi.
Hal-hal yang terkait dengan learning to do :
-Health and Harmony with Nature
(Kesehatan dan Keharmonisan dengan Alam)
-Truth and Wisdom
(Kebenaran dan Kebijaksanaan)
-Love and Compassion
(Cinta dan Kasih Sayang)
-Creativity
(Kreativitas)
-Peace and Justice
(Perdamaian dan Keadilan)
-Sustainable Development
(Pembangunan Berkelanjutan)
-National Unity and Global Solidarity
(Persatuan dan Solidaritas Nasional)
-Global Spiritual
(Spiritual Global)
C. LEARNING TO BE/BELAJAR BERKEMBANG UTUH
APNIEVE
mendefinisikan belajar didasarkan pada filsafat pendidikan humanistik yang
bertujuan untuk mengembangkanmanusia
sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat. Yang melibatkanaspekkekuatan, kemampuan dan
bawaan potensi dalam dirimanusia
serta dapat menghormati martabat dan nilai masing-masing individu.
MenurutEdgar Faure dalamlaporannya“
manusiaituhakikatnyatidaklengkap, terbagi-bagi, danbelumselesai “.
Artinyabahwapendidikanharusdiarahkanuntukpengembanganmanusiaseutuhnyamulaidariaspekfisik,
intelektual, emosional, danetika“ .
Konsep
ini dikembangkanolehseorangfilsufbernamaPaulo Freire, seorang pendidik Brasil yang luar biasa, Penerimapenghargaan
UNESCO International Award On Education, Comenius medal, bahwa"humanisasi adalahdasarpembebasanmanusiauntukmenentukantakdirataupilihan", dan halini dapat dicapaimelaluiproses menyadaripertentanganyang ada dalam diri dan dalam masyarakat
dan secara bertahap mampu membawa perubahanpribadinyamaupundalammasyarakat. Hal ini dimulai dariindividu yang
sadarakanpotensidirinyadanbertujuanuntukmenjadimanusiaseutuhnya.
DalamLaporan Faure meringkas tujuan universal
Pendidikan sebagai berikut:
1. Pendidikanbertujuanuntukmemberikanpenguasaanpegetahuan/wawasandanteknologi.
Sebabwawasan yang luas, penguasaanteknologi,
danketerampilanbahasasangatdibutuhkansaatini . .
2.
Pendidikanbertujuanuntukmembentukkreatifitas,
berartimelestarikanorisinalitasmasing-masingindividu..
3.
Pendidikanbertujuanuntukmempersiapkanindividuuntukhidup di masyarakat. Dan
bergeraksebagaiindividu yang mempunyai moral
danintelektualsertamampumengubahkehidupanmasyarakatkearah yang lebihbaik
4.
Pendidikanbertujuanuntukmenjadikanmanusiamenujumanusiaseutuhnya yang
mengutamakankepribadiansebagaitujuanuntukmengembangkandirinyasendiriserta orang
lain. Dan jugamampumenyeimbangkanantaraintelektual, etika, danemosional.
Filosofi diatasadalah prinsip belajar untuk menjadi
manusia sepenuhnya.
Jacques
Delors dalam laporan UNESCO tahun 1996,Learning: The Treasure Within, merujuk kepada Pendidikan
sebagai "diperlukan utopia," menyatakan bahwa itu adalah aset yang
sangat diperlukan dalammenghadapi
banyak tantangan masa depan dan dalam mencapai cita-cita damai, kebebasan dan
keadilan sosial. Dia pergi jauh untuk mengatakan bahwa untuk mengatasi
ketegangan utama masa depan: antara global dan lokal, universal dan individu,
tradisi dan modernitas, spiritual dan material, antara lain, seumur hidup
belajar, belajar bagaimana untuk belajar didasarkan pada empat pilar
pendidikan: belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar hidup bersama,
dan belajar untuk menjadi, telah menjadi suatu keharusan. "Prinsip
mendasar adalah bahwa pendidikan harus berkontribusi pada pengembangan semua
pikiran masing-masing individu, dan tubuh, kecerdasan, kepekaan, rasa estetika,
tanggung jawab pribadi dan nilai-nilai spiritual."
Mereka percaya
dalam pendekatan holistik dan terpadu untuk mendidik manusiasebagai individu
dan sebagai anggota masyarakat yang berfokus pada pengembangan dimensi dan kapasitas manusia seperti fisik,
intelektual, estetika,
Etika, ekonomi, sosial budaya, politik,
dan rohani, termasuk hubungan dengan orang lain di Keluarga, masyarakat, negara,
wilayah, dan dunia.
APNIEVE
percaya bahwa pembangunan seseorang individu dan sosial berlabuh di delapan
nilai-nilai inti: Kesehatan dan harmoni dengan alam, kebenaran dan
kebijaksanaan, Cinta dan kasih sayang, kreativitas dan penghargaan untuk keindahan, perdamaian dan keadilan, Pembangunan
manusia, persatuan dan solidaritas Global, dan Global Spiritualitas, dan nilai-nilai terkait (gambar 4). Nilai-nilai ini
berkumpul di sekitar Pusat nilai martabat manusia.
Dengan
demikian, prinsip dasar pendidikan harus berkontribusi pada pengembangan total
dari dalammanusiasepertitubuh
dan jiwa, pikiran dan Roh, kecerdasan dan emosi, kreativitas dan kepekaan,
otonomi pribadi dan tanggung jawab, kesadaran sosial dan komitmen, manusia,
etika, budaya dan nilai-nilai spiritual.
Definisi
dan penjelasan tentang nilai-nilai fundamental dan dominan mengandungdasar pedoman untuk pendekatan holistik dalambelajar, memanfaatkan proses penilaian,
yang membawa ke pertimbangan kekuatan kognitif, afektif dan perilaku pelajar.
Siklus
belajar-mengajar dan proses penilaian dimulai dengan mengetahui dan memahamidiri
sendiri kemudianorang lain, yang
menyebabkan pembentukan konsep diri yangbaik, rasaidentitas, harga diri, dan
kepercayaan diri, serta rasa hormat yang diwujudkansecarakongkritdilapangan. Hasil untuk menilai, mencerminkan,
memilih, menerima, menghargai, danmemperoleh keterampilan yang diperlukan,
seperti komunikasi, pengambilan keputusan, dan akhirnya harusdiaplikasikandalamtindakan. Semuainimerupakanupayauntukmengintegrasikan pengetahuan peserta,
nilai-nilai dan sikap, kemampuan dan keterampilan untukmengetahuisejauhapaperkembanganmereka.
Learning to be (belajar untuk menjadi)
Learning
to be mengandung
arti bahwa belajar adalah proses untuk membentuk manusia yang memiliki jati
dirinya sendiri. Oleh karena itu, pendidik harus berusaha memfasilitasi peserta
didik agar bealajar mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu yang
berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai individu sekaligus sebagai
anggota masyarakat. Dalam pengertian ini terkandung makna bahwa kesadaran diri
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yakni makhluk hidup yang memiliki tanggung
jawab sebagai khalifah serta menyadari akan segala kekurangan dan
kelemahannya. Learning to be, sehingga dapat mengembangkan kepribadian
lebih baik dan mampu bertindak mandiri, membuat
pertimbangan dan rasa tanggung jawab pribadi yang semakin besar,
ingatan, penalaran, rasa estetika, kemampuan fisik, dan keterampilan
berkomunikasi.
Tiga pilar pertama ditujukan bagi lahirnya generasi muda
yang mampu mencari informasi dan/ menemukan ilmu pengetahuan, yang mampu
melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah, dan mampu bekerjasama, bertenggang
rasa, dan toleran terhadap perbedaan. Bila ketiganya berhasil dengan
memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada masing-masing peserta
didik.
Konsep learning to be perlu dihayati oleh
praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar memiliki rasa percaya diri yang
tinggi. Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam
masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari
proses menjadi diri sendiri (learning to be) (Atika, 2010).
Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan
jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di
masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses
pencapain aktualisasi diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
proses pendidikan menurut Djamal (2007:101) yaitu:
1) Motivasi
Yaitu kondisi fisiologi dan
psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorong untuk melakukan
aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan/ kebutuhan
2) Sikap
Sikap yaitu suatu kesiapan mental
atau emosional dalam berbagai jenis tindakan pada situasi yang tepat.
3) Minat
4) Kebiasaan
belajar
Berbagai hasil penelitian
menunjukkan, bahwa hasil belajar mempunyai kolerasi positif dengan kebiasaan
atau study habit. Kebiasan merupakan cara bertindak yang
diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi
menetap dan bersifat otomatis.
5) Konsep
diri
Konsep diri adalah pandangan
seseorang tentang dirinya sendiri yang menyangkut perasaannya, serta bagaimana
perilakunya tersebut berpengaruh terhadap orang lain.
Makna pilar ke empat ini adalah
muara akhir dari tiga pilar pendidikan diatas. Dengan pilar ini , peserta didik
berpotensi menjadi generasi baru yang berkepribadian mantap dan mandiri(Aezacan,
2011).
D. LEARNING TO LIVE TOGETHER/BELAJARHIDUP BERSAMA
1. Arti dari “Learning
To Live Together”
Learning to live together dalam bahasa Indonesia artinya
belajar untuk bisa hidup bersama , maksudnya yaitu dengan terus belajar kita
akan terus mendapatkan wawasan yang baru mengenai sesuatu hal kita tidak
ketahui sebelummnya.
2.
Cara Mencapai Kehidupan
Bersama
Dalam mencapai kehidupan bersama diperlukan
usaha-usaha, cara-cara dan kunci-kunci yang lebih menonjolkan sifat kebersamaan
atau rasa kepedulian social yang tinggi. Karena dalam mencapai kehidupan
bersama rasa kebersamaan tersebut harus diawali dari individu terlebih dahulu
sebelum akhirnya kepada ruang lingkup yang lebih luas. Setiap individu harus
memulai usaha sosialisasi dan rasa kebersamaan di dalam kehidupan, sehiingga
kehidupan bersama dapat didapatkan dengan mudah. Usaha tersebut yaitu dengan
menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya.
Dan untuk memasuki abad baru atau dunia “kita” bersama-sama maka memerlukan
kunci di bawah ini, yaitu :
a. Memahami diri sendiri, satu sama lain dan dunia
b. Menggunakan teknologi baru secara kritis
c. Mencari tempat kita di masyarakat
d. Membangun dunia lebih layak dan lebih adil
Dan dalam mencapai keberhasilan yang diinginkan, yaitu
dapat hidup bersama tanpa adanya rasa keberatan atau ketidaknyamanan pada diri
sendiri pastilah terdapat masalah-masalah demi terciptanya kehidupan bersama
tersebut, dan amsala-masalah itu di antaranya :
a. Menemukan orang lain dengan menemukan diri sendiri
b. Mengadopsi perspektif kelomppok etnis, agama dan
social lainnya
c. Berpartisipasi dalam proyek dengan orang-orang dari
kelompok
d. Mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan ketegangan
dan konflik.
3.
Institusi Pendidikan Masyarakat
Institusi pendidikan masyarakat adalah suatu lembaga
pendidikan, yang berguna sebagai fasilitator dari masyarakat suatu daerah atau
suatu wilayah, yang tentunya bertujuan untuk memfasilitasi pembelajaran.
Menurut Komisi Delors Intitusi Pendidikan Masyarakat
adalah memberikan pendidikan formal pada tempat sentral dalam proses
pembelajaran sepanjang hidup. Tidak ada masalah yang perlu dibicarakan dari
pembukaan institusi pendidikan. Dan di dalam institusi pendidikan masyarakat
terdapat tiga tingkatan pendidikan, yaitu Pendidikan Dasar, Pendidikan Menegah
dan Pendidikan Tinggi.
a. Pendidikan dasar : Sebuah Paspor untuk Hidup
-
Menanggapi kebutuhan
umum dari populasi keseluruhan, anak-anak dan orang dewasa
-
Menempa sikap
terhadap pembelajaran yang akan berlangsung sepajang hidup
-
Menyediakan alat-alat
untuk belajar (membaca, menulis, ekspresi lisan, perhitungan, pemecahan masalah)
-
Mengembangkan bakat
untuk hidup bersama dan dasar-dasar individu prestasi.
b. Pendidikan Menengah : Sebuah Persimpangan dari Kehidupan
-
Memungkinkan bakat
untuk diungkapkan dan berkembang
-
Mendukung pemuda
dalam pilihan mereka orientasi professional
-
Memperkaya elemen
inti umum ( bahasa, ilmu pengetahuan, pengetahuan umum) sambil memfokuskan
lebih pada persiapan untuk hidup aktif
-
Memungkinkan orang
muda untuk mengembangkan bakat yang diperlukan untuk mengantisipasi dan
beradaptasi dengan perubahan besar.
-
Menawarkan pelatihan
professional untuk profesi yang ada dan masa depan
-
Mengorganisir jalur
diversifikasi memungkinkan untuk masa depan kembali ke dalam system pendidikan
c. Pendidikan Tinggi : Sebuah tempat untuk Warisan Umum Pengetahuan
-
Persiapan untuk
penelitian dan pengajaran
-
Menawarkan pelatihan
yang sangat khusus disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan social dan ekonomi
-
Tempat budaya dan
pembelajaran terbuka untuk semua
-
Memperkaya dialog
antara masyarakat dan budaya melalui kerjasama internasional.
4.
Kontribusi Pendidikan
Non-Formal
Walau pun dalam dunia pendidikan kontribusi pendidikan
formal dianggap lebih besar dan lebih baik dari ada pendidikan non-formal,
namun sesungguhnya pendidikan non-formal juga memiliki kontribusi yang besar. Pada
praktik pendidikan non-formal menyangkut sekelompok organisasi dan departemen
yang intervensi pada isu-isu seperti : lingkungan, kesehatan, pekerjaan, status
perempuan, budaya, pariwisata, perencanaan kota, pertanian dll. Beberapa
sentuhan kebijakan pemerintah pada aspek mereka yang bertanggung jawab atas
kebijakan dan program yang dihasilkan dari laporan keprihatinan Delors. Komisi
Delors menyoroti kebutuhan untuk tempat-tempat yang mendukung pembelajaran
non-formal sepanjang hidup. Tempat-tempat yang diperlukan untuk memungkinkan
berkembang dan keragaman bakat individu. Mereka berkontribusi terhdap penemuan
solidaritas dan kewarganegaraan. Saling ketergantungan dari sector
formal-nonformal harus diakui dan langsung hubungan didorong oleh komisi Delors
untuk mendukung belajar seumur hidup.
5. Globalization of
Problem and Solution
Globalisasi, sebuah proses pembaharuan dan pembuka
informasi dengan sejuta manfaat dan sejuta kekurangan yang mendampinginya.
Globalisasi dapat menjadi sebuah masalah dan adapat juga menjadi sebuah pemecah
masalah. Dan itu mungkin sudah menjadi sebuah hokum alam atas lahiranya
sesuatu, yaitu apabila sesuatu yang baru itu lahir maka akan dapat dimanfaatkan
untuk kebaikan dan juga dapat dimanfaatkan untuk keburukan.
Dalam globalization of problem and solution terdapat
beberapa penjelasan-penjelasan terhadap poin konsep globalisasi, bentuk
pembelajaran kemasyarakatan yang lebih baik, dan penjelasan Dellors.
a.
Pointers on the concept of globalization
Poin-poin
yang ada dalam konsep globalisasi, di antaranya batas negara jauh lebih terbuka
daripada mereka dulu. Tidak lagi seperti yang terjadi setelah Perang Dunia
Kedua yang ada pembagian antara negara-negara di bagian Barat dan bagian Timur.
Ini jauh lebih sederhana daripada sebelumnya untuk orang-orang, barang dan ide-ide
untuk beredar di seluruh dunia. Hal ini akan mengubah cara kita hidup dan cara
kita bekerja. Hal ini mungkin akan mengguncang nila-nilai pribadi dan pilihan
kita, memengaruhi kebiasaan politik kita dan cara kita melakukan penelitian
ilmiah. Semua ini dapat menciptakan masalah kompleks yang sulit untuk
diselesaikan di tingkat local. Kegiatan kriminal, masalah lingkungan,
pengangguran, ketidaksetaraan gender, hambatan komunikasi. Pertukaran dengan
orang lain di negara dapat membantu kita menemukan solusi untuk masalah ini.
b.
What type of education for a better life in a global
society?
Apakah
tipe pembelajaran untuk hidup yang lebih baik di masyarakat secara umum? Apakah
Anda ingin menemukan dunia? Jika demikian, bagaimana kita belajar untuk hidup
bersama dalam masyarakat global? Apa pengetahuan dan keterampilan yang paling
penting untuk partisipasi dalam gerakan ini pertukaran ekonomi, budaya dan
ilmiah dalam skala global?
c.
How does the delors report respond?
-
Mempromosikan
pengetahuan dan harga diri
Menemukan bakat
sendiri dan memahami realitas pribadi seseorang sangat penting untuk menemukan
dan memahami orang lain.
-
Belajar untuk membuat
dan membuat link
Untuk membantu memahami hubungan antara manusia dan
lingkungan mereka, Delors Komisi merekomendasikan reorganisasi pengajaran,
mendukung pendekatan yang menyebut pada beberapa disiplin sekaligus.
-
Mempromosikan
pembelajaran dua bahasa
Komisi Delors nikmat
program sekolah yang memungkinkan untuk pengajaran dua atau tiga bahasa.
-
Mendorong pertukaran
internasional
Komisi mendorong guru
untuk berpartisipasi dalam pertukaran internasional dan pengalaman kerja dalam
budaya lain.
Nama : Rapika Anna Sari Tarigan
Nim : 1304183
Kurtekpend A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar