"Faktor - faktor yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran"
Pembelajaran merupakan suatu upaya untuk membelajarkan siswa. Sedangkan belajar merupakan suatu kegiatan yang menghasilkan kemampuan baru yang bersifat permanen pada diri siswa. Dengan memandang belajar dan pembelajaran sebagai suatu sistem, maka faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran yaitu:
Masukan Mentah
Masukan mentah merupakan kondisi seseorang pada situasi awal (sebelum kegiatan belajar dan pembelajaran berlangsung). Keberhasilan atau kegagalan belajar sangat tergantung pada masukan mentah ini. Kondisi subjek ini meliputi:
1. Kondisi Fisiologis
Kondisi
umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran
organ-organ tubuh, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa
dalam mengikuti pelajaran. Kondisi tubuh yang lemah apalagi disertai
sakit kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas kognitif sehingga
materi yang dipelajarinya pun kurang dipahami.
Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan, indera pendengaran dan indera penglihatan, juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas.
(Tanwey Gerson Ratumanan, 2002: 10-11)
2. Kondisi Psikologis
Banyak faktor yang
termasuk kondisi psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas
dan kualitas hasil belajar siswa, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Intelegensi Siswa
Intelegensi dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Jadi,
intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan
juga kualitas organ-organ tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus
diakui bahwa peran otak dalam hubungannya dengan intelegensi manusia
lebih menonjol daripada peran organ-organ tubuh lainnya Karena otak
merupakan “menara pengontrol” hampir seluruh aktivitas manusia.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa sangat menetukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin
tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar
peluangnya untuk meraih sukses, Sebaliknya, semakin rendah kemempuan
intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh
sukses.
Setiap calon guru dan guru professional sepantasnya menyadari bahwa keluarbiasaan intelegensi siswa, baik yang positif seperti superior maupun yang negatif seperti borderline,
lazimnya menimbulkan kesulitan belajar siswa yang bersangkutan. Di satu
sisi siswa yang sangat cerdas akan merasa tidak mendapatkan perhatian
yang memadai dari sekolah karena pelajaran yang disajikan terlampau
mudah baginya. Akibatnya, ia menjadi bosan dan frustasi karena tuntutan
kebutuhan keingintahuannya (curiosity) merasa dibendung secara
tidak adil. Di sisi lain, siswa yang bodoh akan merasa payah mengikuti
sajian pelajaran karena terlalu sukar baginya. Karenanya siswa itu
sangat tertekan, dan akhirnya merasa bosan dan frustasi seperti yang
dialami rekannya yang luar biasa positif. (Muhibbin Syah, 2003: 147-148)
b. Sikap
Sikap dapat didefinisikan dengan berbagai cara dan setiap definisi itu berbeda satu sama lain. Trow mendefinisikan
sikap sebagai suatu kesiapan mental atau emosional dalam beberapa jenis
tindakan pada situasi yang tepat. Di sini Trow lebih menekankan pada
kesiapan mental atau emosional seseorang terhadap sesuatu objek.
Sementara itu Allport seperti
dikutip oleh Gable mengemukakan bahwa sikap adalah suatu kesiapan
mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman dan memberikan
pengaruh langsung kepada respons individu terhadap semua objek atau
situasi yang berhubungan dengan objek itu.
Definisi
sikap menurut Allport ini menunjukan bahwa sikap itu tidak muncul
seketika atau dibawa lahir, tetapi disusun dan dibentuk melalui
pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang. Harlen mengemukakan
bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan seseorang untuk
bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.
(Djaali, 2008: 114)
c. Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.
Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus menerus yang
disertai dengan rasa senang. Jadi berbeda dengan perhatian, karena
perhatian sifatnya sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum
tentu diikuti dengan perasaan senang, sedangkan minat selalu diikuti
dengan perasaan senang dan dari situ diperoleh kepuasan.
Minat
besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang
dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar
dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. Bahan
pelajaran yang menarik minat siswa, lebiih mudah dipelajari dan
disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
Jika
terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah
diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara
menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta
hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan
pelajaran yang dipelajari itu.
(Slameto, 2003: 57)
d. Motivasi
Motivasi menurut Sumadi Suryabrata adalah
keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk
melakukan aktivitas tertentu guna pencapaian suatu tujuan. Sementara
itu Gates dan kawan-kawan mengemukakan
bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis yang
terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara
tertentu. Adapun Greenberg menyebutkan bahwa motivasi adalah proses membangkitkan, mengarahkan, dan memantapkan prilaku arah suatu tujuan. Dari tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi adalahkondisi
fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu
tujuan (kebutuhan). (Djaali, 2008: 101)
e. Bakat
Secara umum, bakat
(aptitude) adalahkemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk
mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972;
Reber,1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang
pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk berprestasi sampai ke
tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Dalam
perkembangan selanjutnya, bakat kemudian diartikan sebagai kemampuan
individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada
upaya pendidikan dan latihan. Seseorang yang berbakat pada bidang
Matematika, akan jauh lebiih mudah menyerap informasi, pengetahuan, dan
keterampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan
siswa lainnya. Inilah yang kemudian disebut bakat khusus (specific aptitude) yang konon tidak dapat dipelajari karena merupakan karunia inborn (pembawaan sejak lahir). (Muhibbin Syah, 2003: 150)
f. Gaya Kognitif
Setiap orang memiliki cara-cara sendiri yang disukainya dalam menyusun apa yang dilihat, diingat, dan dipikirkannya. Perbedaan-perbedaan
antara pribadi yang menetap dalam cara menyusun dan mengolah informasi
serta pengalaman-pengalaman ini dikenal sebagai gaya kognitif.
Gaya kognitif merupakan variabel penting yang mempengaruhi
pilihan-pilihan dalam bidang akademik, bagaimana siswa belajar, serta
bagaimana siswa dan guru berinteraksi dalam kelas. (Slameto, 2003: 160)
Masukan Instumental
Masukan
instrumental menunjukkan kualifikasi serta sarana yang diperlukan untuk
dapat berlangsungnya kegiatan belajar dan pembelajaran. Masukan
instrumental meliputi berbagai komponen seperti guru (kemampuan/
kompetensi, kesiapan, sikap, minat, dan sebagainya), kurikulum, metode,
evaluasi ( proses dan hasil belajar), sarana prasarana (ruangan,
alat bantu belajar, buku teks, buku penunjang dan sebagainya), dan
sebagainya. (Tanwey Gerson Ratumanan, 2002: 11)
Masukan Lingkungan
Masukan
lingkungan merupakan masukan yang berasal dari lingkungan sekitar
siswa. Yang termasuk dalam masukan lingkungan ini adalah
- Lingkungan Fisik
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan fisik adalah cuaca, keadaan udara, ruangan,
cahaya, kesehatan lingkungan, dan waktu belajar yang digunakan siswa.
Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan
belajar siswa.
Mengenai waktu yang disenangi untuk belajar seperti pagi atau sore hari, seorang ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun, menurut penelitian beberapa ahli learning style (gaya
belajar), hasil belajar itu tidak tergantung pada waktu secara mutlak,
tetapi bergantung pada pilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan
siswa (Dunn, dkk., 1986).
b b. Lingkungan Sosial
Yang termasuk lingkungan sosial adalah pergaulan siswa dengan orang lain di sekitarnya, sikap dan perilaku orang di sekitar siswa dan sebagainya.Lingkungan
sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah orang tua
dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik
pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, semuanya dapat memberi dampak
baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai
oleh siswa.
Kondisi
masyarakat di lingkungan siswa yang kumuh, anak-anak penganggur dan
serba kekurangan akan sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.
Paling tidak, siswa tersebut akan menemukan kesulitan ketika memerlukan
teman belajar atau berdiskusi ataupun meminjam alat-alat belajar
tertentu yang kebetulan belum dimilikinya. (Muhibbin Syah, 2003:
152-154)
- Lingkungan Kultural
Yang termasuk lingkungan kultural adalah kebiasaan dan tata cara pergaulan masyarakat di sekitar siswa. Setiap daerah memiliki kebiasaan dan tata cara pergaulan yang berbeda-beda. Hal ini, dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa.
Sumber :
Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Cetakan Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Cetakan Keempat. Jakarta: PT RINEKA CIPTA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar